Minggu, 21 Oktober 2012



S
Text Box: Judul  :  DIMENSI SAINS AL-QUR’AN  Menggali Ilmu Pengetahuan dari Al-Qur’an
Penulis  :  Prof. Dr. Ahmad  Fuad Pasya
Penerbit  : Tiga Serangkai
Cetakan  : kedua,2006
Tebal  : 298
Peresensi : Ahmadi, AR*
emakin tinggi peradaban manusia, maka semakin tinggi pula cara pandang dan berfikir dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satunya adalah bagaimana manusia berfikir untuk menemukan seluruh aspek kehidupan yang ada di dunia ini.

Islam merupakan agama penyempurna dari berbagai agama yang diturunkan Sang Khalik untuk hambanya, sebagai system yang rabbani dan komprehensif serta membawa kebahagiaan umat manusia di dunia dan di akhirat. banyak memiliki keaneka ragaman ilmu pengetahuan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia dalam menjalankan roda kehidupannya, baik yang bertalian dengan hubungan dengan penciptanya ( gharizatu tadayun), hubungan semasa makhluk (kimah insaniyah/ gharizatu nau’)  dan hubungan dengan lingkungannya. Dan telah banyak dilakukan studi yang menyoroti sisi kemukjizatan Al-Qur’an, antara lain dari segi sains yang pada era ilmu dan teknologi ini banyak mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan.
Bermula dari kesempurnaan yang dikandung dalam Islam dan Al-qur’an sebagai pedomannya, maka banyak bermunculan para peneliti, pemikir, dan bahkan pengkaji Islam (Bidang Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Moral, Sains, Kesehatan, kepemimpinan, membuat tafsir, pengklasifikasian ayat Al-qur’an menurut pokok bahasan yang dilakukan oleh Mohtar Na’im dll. Perse ).
Buku berjudul “Dimensi Sains Al-Qur’an menggali Ilmu dari Al-Qur’an” yang diterbitkan Tiga Serangkai Solo berusaha menguak “tabir” kebuntuan pemahaman tentang Al-Qur’an yang selama ini kita mungkin hanya membaca dan masih belum mencapai memahami. Dengan beredarnya buku ini dirasa sangat cocok untuk membangkitkan semangat keislaman dan semangat qur’ani bagi generasi Islam sehingga di era global ini kita tidak memiliki pemahaman yang jauh dari Rabbani.
Buku ini membahas mulai dari ilmu pengetahuan dan Iman yang merupakan pangkal pengesaan makhluk kepada Sang Khalik, sebagai contoh seseorang yang melakukan penelitian dibidang sains, khususnya tentang ilmu-ilmu kosmos, akan tetap sebagai peneliti dan tidak meningkat menjadi ‘alim (orang yang berilmu), kecuali jika tercapai apa yang difirmankan Allah, ….Dan agar orang-orang yang diberi ilmu menyakini bahwa Al-Qur’an adalah dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus…(al-Hajj:54) ungkapan yang menakjubkan ini menunjukkan hakikat hubungan antara ilmu dan iman. Ilmu diikuti oleh iman secara langsung tanpa jeda, dan iman diikuti oleh gerakan hati yang tunduk dan khusyuk kepada Allah swt. Dan ada banyak ungkapan ayat-ayat yang membangkitkan pikiran kita dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan, semisal tidakkah kalian memikirkan? Tidakkah kalian berfikir? Tidakkah kalian perhatikan? Tidakkah mereka memperhatikan? dan lain-lain yang dibahas dalam bab 1, kemudian di bab 2 membicarakan tentang Sains dan Al-Qur’an yang menjelaskan makna ayat kauniyah dan wacana Al-Qur’an tentang alam raya, hingga kesudahan alam (kiamat) sebagai contoh tentang teori nebula dan bigbeng yaitu ayat …dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dn bumi itu keduanya dahulu berpadu, lalu kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air itu kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air, mengapa mereka tidak beriman” (Al-Anbiya’:30), selanjutnya di bab 3 mengulas tentang hakikat waktu, langit yang mengandung hujan, matahari, bintang, warna dll, kemudian beliau menulis tentang bentuk dan gerak bumi hingga gejala angin, awan dan hujan dibahas tuntas-tas pada bab 4, dan tanda kebesaran Allah pada makhluk hidup ditelakkan dibab 5. asal mula penciptaan manusia, bagaimana proses pembuatanyya, baik yang melalui “kunfayakun” maupun turunannya yang merupakan hasil dari pertemuan sel sperma dan sel telur (ovum), ini dibahas sempurna pada bab 6.
Prof. Dr. Fuad Pasya dalam setiap membahas materinya selalu disandarkan dengan ayat-ayat Al-qur’an yang memang secara makna memiliki kaitan erat dengan kajian ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan. Ini menunjukkan betapa agungnya Al-Qur’an menunjukkan semua fakta ilmiah itu sekali secara langsung. Dan kita akan menemukan rahasia yang tersimpan dalam Al-Qur’an dengan bantuan membaca buku ini. Karena buku ini juga dilengkapi dengan catatan kaki yang cukup lengkap dalam menerangkan sumber dan landasannya dalam membantu karyanya.
Patut kiranya kita memberikan acungan jempol bagi penulis karena kepandaian dan kecerdasannya dalam memberikan pemahaman baru dalam memahami Al-Qur’an yang ada kaitannya dengan sains.
Dan patut pula kiranya kita untuk membaca buku yang satu ini demi meningkatkan pemahaman kita kepada kehidupan ini serta cocok digunakan sebagai referensi dalam penulisan karya ilmiah.
Simaklah satu ayat berikut…”mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ciptaan Allah), dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai”. (QS. Al-A’raf:179)

*  Peresensi adalah edukator

pkp

 








LAPORAN
PEMANTAPAN  KEMAMPUAN  PROFESIONAL
(  P  K  P  )


UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM
MENULIS CERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR
PADA SISWA KELAS IV SDN 3 PEROMAAN
KECAMATAN TAMBAK



OLEH

    N A M A          : SAIFUL ANWAR
      N I M   : 813 833 913






UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH SURABAYA
POKJAR S 1 PGSD KABUPATEN GRESIK
2011


1
 
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
                        Manusia merupakan makhluk yang perlu berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi terasa semakin penting pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, karena itu membutuhkan media yang paling tepat dijadikan landasan untuk mencapai hal tersebut  adalah melalui media ” Bahasa“.
Apabila di cermati, pembelajaran bahasa Indonesia SD merupakan pembelajaran yang paling utama, sebab dengan bahasalah siswa dapat menimba ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta informasi yang ditularkan dari pendidik. Proses tersebut terjadi sejak awal belajar di sekolah. Mencermati hal itu maka guru sebagai pelaksana dan pengelola pembelajaran di sekolah, dituntut untuk dapat merancang, melaksanakan dan mengevaluasi aspek-aspek yang tercakup dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Untuk mencapai kompetensi hasil belajar Bahasa Indonesia tersebut, maka dikembangkan empat aspek pembelajaran Bahasa Indonesia (menyimak, berbicara, membaca, menulis) dan dua aspek penunjang yakni kebahasaan dan apresiasi bahasa dan sastra, yang dalam pelaksanaannya aspek-aspek ini menjadi fokus dalam setiap pertemuan (Puji Santoso, 2008: 3,17).
Menulis atau mengarang merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks, untuk itu perlu dilatihkan secara teratur dan cermat sejak kelas awal SD. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif karena penulis harus terampil menggunakan grofologi, struktur bahasa dan memiliki pengetahuan bahasa yang memadai (Morsey, 1986:122). Pembelajaran menulis di SD terdiri atas dua bagian yaitu menulis permulaan dan menulis lanjutan (pendalaman). Menulis permulaan, diawali dari melatih siswa untuk memegang alat tulis dengan benar, menarik garis, menulis huruf, suku kata, kalimat sederhana dan seterusnya. Sedangkan menulis lanjutan mulai menulis kalimat sesuai gambar, menulis paragraf sederhana, menulis karangan pendek dengan bantuan berbagai media dengan ejaan yang benar.
Belajar menulis kelihatannya mudah, namun yang terjadi tidak seperti itu. Karena dia tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat     dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis. Ketidaktahuan itu tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga, sekolah serta pengalaman. Pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah kurang menarik dan merangsang hasil belajar siswa untuk menulis.
Setelah diadakan evaluasi dari 10 siswa hanya 20 % yang memiliki ketuntasan dalam belajar mengarang, selain itu hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar menulis cerita  sangat rendah.
Rendahnya hasil belajar siswa terhadap pembelajaran menulis cerita diduga karena ada beberapa faktor yaitu siswa, guru dan lingkungan pembelajaran di kelas. Faktor tersebut dapat diperbaiki melalui peran guru yang dituntut harus mampu menarik hasil belajar siswa terhadap pembelajaran tersebut.
Berdasarkan  beberapa permasalahan yang ada di atas penulis melakukan penelitian tindakan kelas pada pembelajaran menulis cerita di kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik dengan menggunakan media gambar.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, dapat di rumuskan rumusan masalah  sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah minat siswa dalam belajar menulis cerita dapat ditingkatkan melalui penggunaan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik?
  2. Bagaimanakah kemampuan siswa dalam belajar menulis cerita dapat ditingkatkan melalui penggunaan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik?
           
C.  Tujuan Perbaikan
                 Tujuan dari dilakukannya kegiatan perbaikan ini adalah untuk mengetahui :
 1. Minat siswa dalam belajar menulis cerita dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik.
2. Kemampuan siswa dalam belajar menulis cerita  melalui penggunaan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik.



D.   Manfaat  Perbaikan
1.       Bagi peneliti, sebagai pengalaman yang sangat berharga sekaligus dapat menambah pengetahuan dalam upaya meningkatkan profesionalisme.
2.       Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih media pembelajaran sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa serta meningkatkan mutu pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
3.       Bagi sekolah, dapat meningkatkan usaha sekolah dalam meningkatkan kualitas hasil pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.
4.       Bagi lingkungan masyarakat, menambah keyakinan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia bukanlah pelajaran yang sulit untuk diikuti.



BAB II
KAJIAN  PUSTAKA

A.  Menulis 
                  Menurut  Proett dan Gill (1986), ada beberapa pendekatan yang kerap muncul dalam pembelajaran menulis, diantaranya: Pendekatan frekuensi yaitu banyaknya latihan mengarang, sekalipun tidak dikoreksi (seperti buku harian atau surat), akan membantu meningkatkan keterampilan menulis seseorang. Pendekatan hasil belajar yaitu pengetahuan orang mengenai struktur bahasaatau kelancaran berbahasa akan mempercepat kemahiran orang dalam menulis. Pendekatan koreksi adalah tentang bagaimana seseorang menjadi penulis karena dia menerima banyak koreksi atau masukan yang di peroleh dari tes tulisannya. Pendekatan Formal yaitu keterampilan menulis akan di peroleh bila pengetahuan bahasa, pengalineaan, pewacanaan, serta konvensi atau aturan penulisan diakui dengan baik.
                  Sebagai proses, menulis merupakan serangkaian aktifitas yang terjadi dan melibatkan beberapa fase Yaitu :
·         Fase pra penulisan (persiapan),
·         Fase penulisan (pengembangan isi karangan),
·         Fase pasca penulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).
    1.  Tahap Prapenulisan
               Menurut Proett dan Gill (1986), tahap ini merupakan fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang di peroleh dan diperlukan penulis. Tujuannya adalah untuk mengembangkan isi serta mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis sehingga apa yang ingin ditulis dapat disajikan dengan baik. Britton (1975 dalam Tompkins dan Hoskisson, 1995), Menyatakan bahwa keberhasilan menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca tulisannya. 
     2.  Tahap Pasca penulisan
               Fase ini merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan tulisan yang kita hasilkan. Kegiatannya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi). Heffernan dan Lincoll (1990: 71-90) serta Tompkins dan Hoskisson (1995: 216–222), membedakan pengertian penyuntingan (editing) dan perbaikan atau revisi (revision). Menurut mereka, penyuntingan adalah pemeriksaan dan perbaikan unsur mekanik karangan seperti ejaan, pungtuasi, diksi, pengkalimatan, pengalineaan, serta gaya bahasa.
Menurut Barrs (1983: 829-831), Pendekatan proses ini dalam menulis, terutama bagi penulis pemula mudah diikuti. Dia akan dapat memahami dan dapat melakukan dengan cepat hal-hal yang harus di persiapkan dan dilakukan dalam menulis. Pendekatan ini pun sangat membantu pemahaman dan sikap, baik guru menulis atau pun penulisan itu sendiri, bahwa menulis merupakan suatu proses yang berkaitan dengan kemampuan, pelaksanaan, dan hasil yang di peroleh secara bertahap. Artinya, untuk menghasilkan tulisan yang baik umumya orang melakukannya latihan berkali-kali.


B.  Hubungan Menulis dengan Membaca
                        Menulis dan membaca adalah kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis dan diterima oleh pembaca dijembatani melalui lomba bahasa yang di tuliskan. Menurut Goodnan dkk. ( 1987 ) dan Tierney ( 1983  dalam tompskin dan Hoskisson, 1995 ), Baca tulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis.
                        Kualitas pengalaman membaca ini akan sangat mempengaruhi kesuksesannya dalam menulis. Itu terjadi, demikian Frank Smith ( 1982 ), karena ketika membaca secara tidak sadar pembaca” Membaca seperti penulis” ( 1982 ). Tidaklah berlebihan  jika kita nyatakan bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula.

C.    Media Belajar
1.   Pengertian Media/gambar
            Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ’tengah’, ’perantara’ atau ’pengantar’. Dalam Bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Grerlach & Ely (1971) mengatakan bahawa media apabila dipahami  secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, foto grafis, elektronik untuk menengkap, memperoses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal (Arsyad, 1997:3).
            Kata media merupakan bentuk jamak dari kata Medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan (Djamarah, 2002: 136).
            Banyak cara yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk saluran yang digunakan untuk menyalurkan pesan/informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Asosiasi Pendidiakan Nasional memiliki pengertian yang berbeda yaitu media diartikan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca (dalam Sadiman, 2007 :6-7).
            Akhirnya dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyelur pesan guna mencapai tujuan pengajaran (dalam Djamarah, 2002:137).
Dalam sejarah pendidikan orang yang pertama menggunakan gambar sebagai media pendidikan ialah Johan Amos Comenius dengan ’Orbie Picture’ nya yang terkenal itu. Dewasa ini gambar merupakan media yang sudah disadari pentingnya untuk memperjelaskan pengertian murid-murid. Yang dimaksud dengan gambar disini ialah gambar-gambar hasil lukisan tangan, gambar-gambar lukisan yang telah di cetak, gambar hasil seni fotografi, baik hasil dari obyek yang nyata maupun kreasi khayalan manusia.
Beberapa tujuan pemakaian gambar; untuk menterjemahkan simbol verbal dan memperjelas pengertian anak, memperkaya atau melengkapi bacaan, untuk membangkitkan hasil belajar belajar, memperbaiki kesan-kesan yang salah, menerangkan suatu unit bacaan.
      2.   Kegunaan Media
Levie dan Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khusunya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi konpensator.
            a). Fungsi Atensi
            Media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka sehingga mereka tidak memperhatikan.
b). Fungsi Afektif
            Media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar  tekas yang bergambar. Gambar atau lambang  atau visual dapat menggugah emosi dan sikap, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
c). Fungsi Kognitif
            Media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa media lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d).  Fungsi Konpensatoris
            Media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam  menghitung untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara verbal. (Arsyad, 1997;17).
            Sudjana dan Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu;
a). Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan hasil belajar belajar.
b). Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
c). Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi vebal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap mata pelajaran.
d). Siswa dapat  lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti menghasil belajar, melakukan, mendemonstrasikan, memamerkan dan lain-lain (Arsyad, 1997:24).
            Dari uraian beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut;
1.       Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2.       Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan hasil belajar belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri sesuai kemampuan dan hasil belajarnya.
3.       Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
4.       Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka (Arsyad, 1997; 24-27).

D.    Jenis-Jenis Media
Banyak cara untuk menyampaikan atau menampilkan sesuatu, salah satunya melalui media. Media sendiri dapat dibagi sebagai berikut:
a.       Media Auditif
Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media ini cocok untuk orang tuli.
b.      Media Visual
Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film rangkai, film bingkai, foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun, diantara media pendidikan, gambar/foto sebagai media yang paling umum dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum, yang dimengerti dan dinikmati di mana-mana.
Beberapa kelebihan dan kelemahan media gambar;
a.       Kongkrit gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
b.      Dapat mengatasi ruang dan waktu,
c.       Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita,
d.      Dapat memperjelas suatu masalah
e.       Murah harganya dan gampang didapat serta digunakan
f.       Gambar/foto hanya menggunakan persepsi indra mata
g.      Gambar/foto terlalu kurang efektif dalam pembelajaran
c.       Media Audiovisual
Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua.
BAB III
PELAKSANAAN  PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.    Subyek Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik dan berlangsung pada tanggal 01 November 2011 dan 8 November 2011. adapun jadwal penelitian sebagai berikut:
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Pembelajaran Menulis Cerita
No
Hari/Tanggal
Kegiatan
Materi
Ket.
1
Selasa, 01 November 2011
-       Penjelasan tentang menulis cerita
-       Menjelaskan strategi menulis cerita
-       Memberikan contoh menulis cerita menggunakan gambar rangkai
-       Mengajak siswa menulis cerita dari gambar yang disediakan
-       Evaluasi materi menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai

Menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
Siklus I
2
Selasa, 8 November 2011
-       Penjelasan tentang menulis cerita
-       Menjelaskan strategi menulis cerita
-       Memberikan contoh menulis cerita menggunakan gambar rangkai
-       Mengajak siswa menulis cerita dari gambar yang disediakan
-       Evaluasi materi menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai

Menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
Siklus II

            Sedangkan yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik. Adapun nama – nama subyek penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Daftar Nama Siswa Kelas IV SDN 3 PEROMAAN
No
Nama Siswa
L / P
1
MOHAMMAD
L
2
LUTFIYAH
P
3
SAKINAH
P
4
SYAIKILATURRAHMI
P
5
KHULIDAWATI
P
6
SALIHIN
L
7
SALMAN
L
8
SHIBGHATULLAH MUJADDIDIN
L
9
ZULZILAWATI
P
10
RABIATUL ADAWIYAH
P

B.      Deskripsi per Siklus
1. Rencana Tindakan 
               Rencana penelitian disusun berdasarkan penelaahan beberapa literatur, diskusi dengan seorang guru (teman sejawat), masukan dari pengawas, yang meliputi : (1) Tujuan rancangan penelitian tindakan kelas, (2) Personalia observer (teman sejawat), (3) Rancangan langkah–langkah penelitian tindakan kelas, dan (4) Jadwal penelitian tindakan kelas.
                        Tindakan dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah di buat dengan ketentuan : (1) tujuan, Memperoleh model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa ”Menulis cerita dengan menggunakan media gambar”. (2) Satu teman sejawat sebagai observer siswa kelas IV. (3) Waktu yang dibutuhkan 2 jam dalam setiap siklus.
      Penelitian tindakan kelas lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya realistik dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun hasil penelitian dapat diterapkan oleh orang lain yang mempunyai konteks yang sama dengan peneliti. Dalam buku Pedoman Teknis Pelaksanaan Classroom Action Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK Depdiknas (2001:5) disebutkan penelitian bersiklus, tiap siklus terdiri dari:
a)      Persiapan/perencanaan (Planning)
b)      Tindakan/pelaksanaan (Acting)
c)      Observasi (Observing)
d)     Refleksi (Reflecting)

2.      Tahap Pelaksanaan
Jumlah siklus pada penelitian tindakan kelas ini ada 2 siklus, yaitu:
a.       Siklus I
1)      Perencanaan (Planning)
Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi bahan pembelajaran
b.      Menyusun silabus dan RPP
c.       Menyiapkan alat bantu pembelajaran
d.      Menyiapkan lembar tes
e.       Menyiapkan lembar observasi

2)      Tindakan / Pelaksanaan (Acting)
Dalam tahap ini merupakan tahap pelaksanaan yang tertuang dalam rencana pembelajaran dengan modifikasi pelaksanaan sesuai dengan situasi yang terjadi.
Tindakan Siklus I
Materi Pokok: Menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
Langkah-langkah tindakan:
-          Tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan awal untuk membangkitkan hasil belajar belajar, serta mengadakan apersepsi.
-          Guru mengajak siswa untuk Menentukan tema pada cerita yang akan ditulis, menyusun kerangka karangan yang sesuai dengan tema, siswa menulis cerita rekaan sesuai dengan tema yang sudah dibuat.
-          Guru mengingatkan kembali ciri-ciri menulis karangan yang baik
-          Guru memberikan dua gambar rangkai yang dijadikan contoh  dalam menulis cerita.
-          Guru mempersilahkan kepada siswa untuk menulis cerita dari beberapa gambar rangkai yang telah disusun sesuai dengan urutan nomer.

Beberapa hal yang diharapkan dalam siklus ini adalah:
-          Siswa mengalami peningkatan hasil belajar belajar dan aktivitas di kelas selama guru melakukan kegiatan pembelajaran.
-          Terdapat peningkatan konsentrasi belajar sehingga aktivitas siswa menjadi terfokus dalam menulis cerita.
-          Siswa memiliki kemauan dan keberanian untuk berlatih menulis cerita melalui gambar rangkai yang tersedia, serta mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.
3)      Observasi (Observing)
Dalam tahap observasi peneliti melakukan pengamatan selama kegiatan berlangsung, juga teman, guru yang diminta bantuan untuk ikut menghasil belajar selama kegiatan proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa dan lembar observasi aktivitas guru.
                     4)  Refleksi (Reflecting)
Tahap ini merupakan tahap menganalisa, mensintesa, hasil dari catatan selama kegiatan proses pembelajaran menggunakan instrumen lembar pengamatan, kuesioner, dan tes. Dalam refleksi melibatkan siswa, teman sejawat yang menghasil belajar dan kepala sekolah. Untuk melakukan perencanaan pada siklus berikutnya, peneliti mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah yang timbul pada pembelajaran siklus I.

Siklus II
1)      Perencanaan (Planning)
         Sebelum melaksanakan tindakan siklus II, peneliti melakukan perbaikan-perbaikan terkait dengan temuan-temuan pada siklus I yang menyangkut hal-hal sebagai berikut :
1.      Bahan ajar
2.      Alat peraga
3.      Silabus dan RPP
4.      Soal tes
5.      Lembar observasi
2)      Tindakan / Pelaksanaan (Acting)
         Dalam tahap ini merupakan tahap pelaksanaan yang tertuang dalan rencana pembelajaran dengan modifikasi pelaksanaan sesuai dengan situasi yang terjadi.
Tindakan Siklus II
Materi Pokok: Menulis cerita Menggunakan media gambar.
Langkah-langkah tindakan:
-          Tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan awal untuk mengingat pelajaran yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya dan membangkitkan hasil belajar belajar, serta mengadakan apersepsi.
-          Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok kemudian memberikan gambar berangkai pada masing-masing kelompok sebagai  tema pada cerita yang akan ditulis, siswa menulis cerita sesuai dengan gambar yang sudah ada.
-          Guru mengingatkan kembali ciri-ciri menulis cerita yang baik
-          Guru memberikan bimbingan  dalam menulis cerita.
-          Guru mempersilahkan kepada masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil karyanya di depan kelas.
-          Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari pelajaran yang telah berlangsung.
Beberapa hal yang diharapkan dalam siklus ini adalah:
-          Siswa mengalami peningkatan hasil belajar belajar dan aktivitas di kelas selama guru melakukan kegiatan pembelajaran.
-          Terdapat peningkatan konsentrasi belajar sehingga aktivitas siswa menjadi terfokus dalam menulis cerita dengan menggunakan media gambar berangkai.
-          Siswa memiliki kemauan dan keberanian untuk berlatih menulis cerita melalui gambar rangkai yang tersedia, serta mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.       
3)   Observasi (observing)
Dalam tahap observasi peneliti melakukan pengamatan selama kegiatan berlangsung, juga teman, guru yang diminta bantuan untuk ikut menghasil belajar selama kegiatan proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa dan lembar observasi aktivitas guru.               
4)      Refleksi (Reflecting)
Tahap ini merupakan tahap menganalisa, mensintesa, hasil dari catatan selama kegiatan proses pembelajaran menggunakan instrumen lembar pengamatan, kuesioner, dan tes. Dalam refleksi melibatkan siswa, teman sejawat yang menghasil belajar dan kepala sekolah.
Dari hasil pembelajaran menulis cerita menggunakan media gambar berangkai menghasilkan beberapa keuntungan:
1.      Dapat meningkatkan hasil belajar belajar siswa
2.      Siswa merasa senang belajar Bahasa Indonesia khususnya materi menulis cerita rekaan
3.      Siswa merasa tidak bosan selama pembelajaran berlangsung.

3.  Instrumen Penelitian
Dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan beberapa analisa, antara lain :
a.       Lembar observasi
Lembar observasi guru digunakan untuk mengungkapkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran antara lain contoh lembar observasi seperti pada lampiran.


b.      Soal tes
Berupa tes hasil belajar berbentuk soal uraian singkat dan menulis cerita dengan menggunakan media gambar. Soal tes dikerjakan secara individu oleh siswa. Tes digunakan untuk mendapatkan gambaran hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, tes diadakan setiap akhir siklus. Dari hasil tes pada siklus satu dan dua  dapat ditarik kesimpulan ada tidaknya peningkatan hasil tes yang dilaksanakan. Data yang diperoleh dari hasil ulangan siswa digunakan untuk mengetahui hasil ketuntasan klasikal maupun individual.


                 

B A B IV
HASIL  PENELITIAN  DAN  PEMBAHASAN

A.  Hasil Pembelajaran Siklus I
               Dari hasil pengamatan  selama proses pembelajaran materi pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai, dengan bahasa sendiri yang sesuai EYD.  Data yang di hasil belajar adalah :
1) Tingkat kategori hasil belajar pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan media gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai EYD
   2) Tingkat hasil belajar siswa pada pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan media gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
3) Tingkat kategori keaktifan siswa pada pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
                     Tingkat kategori hasil belajar belajar siswa dalam pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD Pada siklus I. Berikut hasil  pengamatan observer (dalam hal ini teman sejawat) terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD tampak rendah.
               Hal ini dapat dilihat dari hasil menulis cerita siswa dalam penulisan alur cerita masih tidak teratur, siswa nampaknya masih kurang banyak latihan menulis cerita. Tingkat kategori hasil belajar siswa pada pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD pada siklus 1.
                     Dari hasil pengamatan terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Tampak bahwa tulisan siswa belum teratur. Hal ini tampak dari rendahnya susunan cerita yang ditulis siswa tidak sesuai dengan yang ia inginkan, rendahnya kemampuan menanggapi masukan guru, dan rendahnya kamampuan merespon masukan guru.
                        Ringkasan tingkat kategori hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. di tunjukkan pada tabel 3.
Tabel 3.Tingkat kategori hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita
Skor
Tingkat Kategori
Hasil belajar
Frekuensi
Persen (%)
5
Sangat tinggi
2
20
4
Tinggi
3
30
3
Cukup
3
30
2
Rendah
1
10
1
Sangat rendah
1
10
TOTAL
10
100
           
         Berdasarkan tabel 3 tampak bahwa dari 10 siswa hanya 20% siswa memiliki hasil belajar pada kategori sangat tinggi, 30% siswa pada kategori tinggi, 30 % siswa dalam kategori cukup, dan 20 % siswa pada  kategori rendah kebawah.
2. Tingkat kategori Keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD.         Dari hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Kualitas tulisan siswa masih rendah. Hal ini tampak dari rendahnya perhatian siswa dalam menanggapi masukan teman, rendahnya kemampuan siswa dalam merespon teman, rendahnya kemampuan menanggapi masukan guru, dan rendahnya kamampuan merespon masukan guru.
                        Ringkasan tingkat kategori perhatian siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. di tunjukkan pada tabel 4.
Tabel 4. Tingkat kategori keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita
Skor
Tingkat Kategori
keaktifan
Frekuensi
Persen (%)
5
Sangat tinggi
2
20
4
Tinggi
2
20
3
Cukup
2
20
2
Rendah
3
30
1
Sangat rendah
1
10
TOTAL
10
100

               Berdasarkan tabel 4 tampak bahwa dari 10 siswa hanya 20 % siswa memiliki hasil belajar pada kategori sangat tinggi, 20 % siswa pada kategori tinggi, 20 % siswa dalam kategori cukup, dan 40 % siswa pada  kategori rendah ke bawah.
3. Tingkat keberhasilan tindakan melalui penerapan pendekatan proses pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD.
                           Jika ditinjau dari hasil tes pada akhir pembelajaran, skor pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. memiliki kategori rendah. Dari hasil tes pada akhir pembelajaran, rentang skor mulai dari 40 - 70 dengan rata-rata ideal (Mi) 30 dan rata-rata hitung 50 dengan standar deviasi (SD) 60 Hasil tes pada akhir pembelajaran berdasarkan kategori ( sangat baik, baik, cukup, kurang, dan kurang sekali ) Ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Tingkat kategori skor siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
Skor
Tingkat Kategori
Skor
Frekuensi
Persen (%)
68 ke atas
Sangat tinggi
1
10
62 – 67
Tinggi
4
40
56 - 61
Cukup
2
20
50 – 55
Rendah
2
20
48 kebawah
Sangat rendah
1
10
TOTAL
10
100
           
                              Hasil pengamatan terhadap peran guru dalam pembelajaran di kelas pada kegiatan : (1) Pada kegiatan penulisan cerita guru kurang membantu yaitu menunjukkan cara menulis cerita yang benar. (2) pada tahap proses pengoperasian menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD, guru kurang memberikan contoh dan latihan yang banyak (3) Pada tahap penyelesaian menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. siswa belum teliti akhirnya masih banyak siswa yang mendapatkan nilai yang rendah.
                     Dari hasil evaluasi dan refleksi terhadap pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. siklus 1 menunjukkan pembelajaran belum efektif dan masih perlu dilakukan perubahan pada rencana tindakan perbaikan ( pada siklus II ), sesuai dengan hasil perbaikan kelemahan pembelajaran siklus I.

B.  Hasil Pembelajaran Siklus II
            Setelah dibuat rencana perbaikan pembelajaran ( pada siklus II ) dilakukan pembelajaran dan dilakukan pengamatan terhadap respon siswa dan hasil belajar siswa.
1.  Tingkat kategori hasil belajar belajar siswa
                         Dalam pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD.                                  Pada siklus II, hasil pengamatan observer (teman sejawat), terhadap  hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari:  semangat siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru sangat antusis bahkan siswa selalu menginginkan untuk ditugasi untuk menulis cerita kembali,. Tingkat kategori  hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. Di tunjukkan pada tabel 6.
         Tabe 6. Tingkat kategori hasil belajar siswa pada menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Siklus II
Skor
Tingkat Kategori
Hasil belajar
Frekuensi
Persen (%)
5
Sangat tinggi
4
40
4
Tinggi
4
40
3
Cukup
1
10
2
Rendah
1
10
1
Sangat rendah
0
0
TOTAL
10
100

                        Berdasarkan tabel 6,  tampak bahwa dari 10 siswa 10 % siswa memiliki hasil belajar pada kategori sangat tinggi pada siklus I meningkat, menjadi 40 % siklus II 20 % siswa pada kategori tinggi pada siklus I, meningkat menjadi 40 % pada siklus II. siswa dalam kategori cukup, 30 % pada siklus I turun menjadi 10% pada siklus II. siswa pada  kategori rendah kebawah dari 40 % pada siklus I turun menjadi 10%.pada siklus II
    2.  Tingkat kategori keaktifan siswa
                                 Pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Dari hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa pada menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD, tampak bahwa keaktifan siswa meningkat. Hal ini tampak dari meningkatnya keaktifan siswa dalam menanggapi masukan teman, meningkatnya  kemampuan siswa dalam menulis cerita, meningkatnya kemampuan menanggapi masukan guru, dan meningkatnya kamampuan merespon masukan guru. Ringkasan tingkat kategori keaktifan siswa pada menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD di tunjukkan pada tabel  8.
Tabel 8. Tingkat kategori keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Siklus II
Skor
Tingkat Kategori
keaktifan
Frekuensi
Persen (%)
5
Sangat tinggi
4
40
4
Tinggi
4
40
3
Cukup
1
10
2
Rendah
1
10
1
Sangat rendah
0
0
TOTAL
10
100

                     Berdasarkan tabel 8. tampak bahwa dari 10 siswa hanya 20 % siswa pada siklus I memiliki hasil belajar pada kategori sangat tinggi meningkat menjadi 40% pada siklus II, 20 % siswa pada kategori tinggipada siklus I meningkat menjadi 40% pada siklus II .dan 30% siswa dalam kategori cukup pada siklus I turun menjadi 10% pada siklus I, dan 20 % kategori rendah kebawah pada siklus I tetapi 10% pada siklus II.

3.  Tingkat kategori skor siswa
                        Jika ditinjau dari hasil tes pada akhir pembelajaran, skor pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD  pada siklus II  memiliki kategori tinggi. Hal ini bisa dilihat dari skor yang di peroleh oleh siswa pada saat mengikuti tes menulis cerita melalui penggunaan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD pada siklus II. Berarti proses pembelajaran pada siklus II mengalami kemajuan. Dari hasil tes pada akhir pembelajaran, rentang skor mulai dari 50 – 85 pada siklus I meningkat 65 – 100 pada siklus II dengan rata-rata ideal (Mi) 50 pada siklus I meningkat menjadi 70 pada siklus II dan rata-rata hitung 60 pada siklus I meningkat menjadi 80 pada siklus II dengan standar deviasi (SD) 70 pada siklus I meningkat menjadi 90 pada siklus II. Tingkat kategori skor siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD pada siklus II ditunjukkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Tingkat kategori skor siswa pada pembelajaran menulis cerita            dengan menggunakan media gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD Siklus II
Skor
Tingkat Kategori
Skor
Frekuensi
Persen (%)
80 ke atas
Sangat tinggi
7
70
68 – 73
Tinggi
2
20
62 - 67
Cukup
1
20
56 - 61
Rendah
0
0
55 kebawah
Sangat rendah
0
0
TOTAL
10
100
                       
                        Hasil pengamatan terhadap peran guru dalam pembelajaran di kelas pada kegiatan: (1) siswa sudah mampu  menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD dengan sangat baik. (2) pada tahap proses pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD guru cukup banyak memberikan contoh dan latihan (3) Pada tahap penyelesaian menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD siswa tidak banyak mengalami kesalahan akhirnya banyak siswa yang mendapatkan nilai tinggi.
                        Dari hasil evaluasi dan refleksi terhadap pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan, keberhasilan dapat dirasakan dengan bukti banyaknya siswa yang meminta diberi tugas menulis serta hasil dari tulisan siswa yang semakin berkualitas.
                        Refleksi yang harus di perhatikan pada tindakan pembelajaran yang lain atau selanjutnya adalah untuk lebih meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas, terkait dengan bimbingan  atau batuan terhadap siswa di dalam kegiatan pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD oleh  sesama siswa serta tetap lebih memperhatikan kepada siswa yang memiliki  kelemahan dalam pembelajaran.
















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A.   Kesimpulan
            Dari hasil analisis data dan pembahaan dapat di buat beberapa kesimpulan, yaitu :
 1.  Hasil belajar dan keaktifan siswa
                Dalam pembelajaran menulis cerita rekaan berdasarkan pengalaman di SD kelas IV dapat di tingkatkan dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD mampu mencapai kategori sangat tinggi 70 % dan 20 % kategori tinggi.
2.  Pendekatan proses penyelesaian
                     Melalui pembiasaan menulis cerita pemberian contoh dan latihan  siswa dapat meningkatkan prestasi pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD di SD kelas IV rata-rata skor 70.
3.  Kesulitan yang banyak dialami siswa
                        Dalam pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD dapat diatasi dengan selalu latihan menulis cerita dan konsoltasi dengan guru yang mendampingi.


B.    Saran
                     Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas, maka peneliti dapat memberikan  saran sebagai berikut :
1.  Guru hendaknya lebih melihat hasil belajar siswa untuk belajar pada sesama teman, (koreksi, saran, dan masukan) dalam mengerjakan pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD Guru hendaknya mau melakukan penelitian tindakan kelas dalam upaya meningkatkan hasil pembelajaran siswa dan meningkatkan profesionalismenya.
2. Kepala sekolah hendaknya mendorong dan mendukung guru yang melakukan inovasi  pembelajaran dengan cara memfasilitasi dan menyemangati.







DAFTAR  PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1995. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rinieka Cipta

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:Yrama Widya

Ardiana, Leo Idra dan Kisyani Laksono. 2004. Bahan Pelatihan Indonesia/E/22 Penelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

……… 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:Depdiknas

Keraf, G. 1984. Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahira Berbahasa. Ende  Flores:Nusa indah.  
                       
............... 1982. Eksposisi dan Deskripsi.  Ende- Flores : Nusa indah

............. 1982.  Argumentasi dan Narasi.  Jakarta : PT. Gramedia

............., 1997. Buku Panduan Guru Sistem Pembinaan Profesional Guru SD Tahun 1997. Surabaya: CV. Dwi Tunggal.

Moeliono, A. M. 1989.Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan tersebar. Jakarta:PT.Gramedia.

Rahmanto, B. 1998. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta:Kanisius

Sadiman, Arif S, dkk. 2007. Media Pendidikan:Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.

Santoso, Puji. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka

Suciati. 2003. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka

Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2007. Media Pengajaran. Bandung:Sinar Baru Algensindo

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1977. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Waluyo, Herman J. 2005. Apresiasi Pemahaman Jenis Kelamin manusia untuk Pelajar Kelas 1 SD. Jakarta:PT. Gramedia Pusataka Utama
Wardhani, IGAK. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka

Wadhani, IGAK, dkk, 2008. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Penerbit UT

Wardhani, IGAK dan Wihardit, Kuswaya. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit UT

Winataputra, Udin S, 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka

Witharinton, HC. 1986. Teknik-Teknik Belajar Mengajar.. Bandung: Jemmars