LAPORAN
PEMANTAPAN KEMAMPUAN
PROFESIONAL
( P
K P )
UPAYA MENINGKATKAN
KEMAMPUAN SISWA DALAM
MENULIS CERITA
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR
PADA SISWA KELAS
IV SDN 3 PEROMAAN
KECAMATAN TAMBAK
OLEH
N A M A : SAIFUL ANWAR
N I M : 813 833 913
UNIVERSITAS
TERBUKA
UNIT PROGRAM
BELAJAR JARAK JAUH SURABAYA
POKJAR S 1 PGSD
KABUPATEN GRESIK
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia merupakan
makhluk yang perlu berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi terasa semakin
penting pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, karena itu membutuhkan
media yang paling tepat dijadikan landasan untuk mencapai hal tersebut adalah melalui media ” Bahasa“.
Apabila di
cermati, pembelajaran bahasa Indonesia SD merupakan pembelajaran yang paling
utama, sebab dengan bahasalah siswa dapat menimba ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, serta informasi yang ditularkan dari pendidik. Proses tersebut terjadi
sejak awal belajar di sekolah. Mencermati hal itu maka guru sebagai pelaksana
dan pengelola pembelajaran di sekolah, dituntut untuk dapat merancang,
melaksanakan dan mengevaluasi aspek-aspek yang tercakup dalam pembelajaran
bahasa Indonesia. Untuk mencapai kompetensi hasil belajar Bahasa Indonesia
tersebut, maka dikembangkan empat aspek pembelajaran Bahasa Indonesia
(menyimak, berbicara, membaca, menulis) dan dua aspek penunjang yakni
kebahasaan dan apresiasi bahasa dan sastra, yang dalam pelaksanaannya
aspek-aspek ini menjadi fokus dalam setiap pertemuan (Puji Santoso, 2008: 3,17).
Menulis
atau mengarang merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks, untuk itu perlu
dilatihkan secara teratur dan cermat sejak kelas awal SD. Menulis merupakan
keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif karena penulis harus
terampil menggunakan grofologi, struktur bahasa dan memiliki pengetahuan bahasa
yang memadai (Morsey, 1986:122). Pembelajaran menulis di SD terdiri atas dua
bagian yaitu menulis permulaan dan menulis lanjutan (pendalaman). Menulis
permulaan, diawali dari melatih siswa untuk memegang alat tulis dengan benar,
menarik garis, menulis huruf, suku kata, kalimat sederhana dan seterusnya.
Sedangkan menulis lanjutan mulai menulis kalimat sesuai gambar, menulis
paragraf sederhana, menulis karangan pendek dengan bantuan berbagai media
dengan ejaan yang benar.
Belajar
menulis kelihatannya mudah, namun yang terjadi tidak seperti itu. Karena dia
tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis. Ketidaktahuan itu
tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga, sekolah serta pengalaman.
Pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah kurang menarik dan merangsang hasil
belajar siswa untuk menulis.
Setelah
diadakan evaluasi dari 10 siswa hanya 20 % yang memiliki ketuntasan dalam
belajar mengarang, selain itu hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar
menulis cerita sangat rendah.
Rendahnya hasil
belajar siswa terhadap pembelajaran menulis cerita diduga karena ada beberapa
faktor yaitu siswa, guru dan lingkungan pembelajaran di kelas. Faktor tersebut
dapat diperbaiki melalui peran guru yang dituntut harus mampu menarik hasil
belajar siswa terhadap pembelajaran tersebut.
Berdasarkan beberapa permasalahan yang ada di atas
penulis melakukan penelitian tindakan kelas pada pembelajaran menulis cerita di
kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik dengan menggunakan
media gambar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, dapat di rumuskan
rumusan masalah sebagai berikut :
- Bagaimanakah minat siswa dalam belajar menulis cerita dapat
ditingkatkan melalui penggunaan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten
Gresik?
- Bagaimanakah kemampuan siswa dalam belajar menulis
cerita dapat ditingkatkan melalui penggunaan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan
Tambak Kabupaten Gresik?
C. Tujuan Perbaikan
Tujuan dari dilakukannya kegiatan
perbaikan ini adalah untuk mengetahui :
1. Minat siswa dalam
belajar menulis cerita dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik.
2. Kemampuan siswa dalam belajar menulis
cerita melalui penggunaan media gambar pada siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik.
D. Manfaat Perbaikan
1. Bagi peneliti, sebagai pengalaman yang sangat berharga sekaligus dapat menambah pengetahuan dalam upaya
meningkatkan profesionalisme.
2. Bagi guru,
sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih media pembelajaran sebagai
upaya meningkatkan hasil belajar siswa serta meningkatkan mutu pembelajaran
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
3. Bagi
sekolah, dapat meningkatkan usaha sekolah dalam meningkatkan kualitas hasil
pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.
4. Bagi
lingkungan masyarakat, menambah keyakinan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia
bukanlah pelajaran yang sulit untuk diikuti.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Menulis
Menurut Proett dan Gill (1986), ada beberapa
pendekatan yang kerap muncul dalam pembelajaran menulis, diantaranya: Pendekatan frekuensi yaitu banyaknya
latihan mengarang, sekalipun tidak dikoreksi (seperti buku harian atau surat),
akan membantu meningkatkan keterampilan menulis seseorang. Pendekatan hasil belajar yaitu pengetahuan orang mengenai struktur
bahasaatau kelancaran berbahasa akan mempercepat kemahiran orang dalam menulis. Pendekatan koreksi adalah tentang bagaimana seseorang
menjadi penulis karena dia menerima banyak koreksi atau masukan yang di peroleh dari tes
tulisannya. Pendekatan Formal yaitu
keterampilan menulis akan di peroleh bila pengetahuan bahasa, pengalineaan,
pewacanaan, serta konvensi atau aturan penulisan diakui dengan baik.
Sebagai proses,
menulis merupakan serangkaian aktifitas yang terjadi dan melibatkan beberapa
fase Yaitu :
·
Fase pra penulisan (persiapan),
·
Fase penulisan (pengembangan isi karangan),
·
Fase pasca penulisan (telaah dan revisi atau
penyempurnaan tulisan).
1. Tahap Prapenulisan
Menurut Proett dan Gill
(1986), tahap ini merupakan fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali
pengetahuan atau pengalaman yang di peroleh dan diperlukan penulis. Tujuannya
adalah untuk mengembangkan isi serta mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam
menulis sehingga apa yang ingin ditulis dapat disajikan dengan baik. Britton
(1975 dalam Tompkins dan Hoskisson, 1995), Menyatakan bahwa keberhasilan
menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca
tulisannya.
2. Tahap
Pasca penulisan
Fase
ini merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan tulisan yang kita
hasilkan. Kegiatannya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi).
Heffernan dan Lincoll (1990: 71-90) serta Tompkins dan Hoskisson (1995: 216–222), membedakan
pengertian penyuntingan (editing) dan perbaikan atau revisi (revision). Menurut
mereka, penyuntingan adalah pemeriksaan dan perbaikan unsur mekanik karangan
seperti ejaan, pungtuasi, diksi, pengkalimatan, pengalineaan, serta gaya bahasa.
Menurut Barrs (1983: 829-831), Pendekatan proses ini dalam
menulis, terutama bagi penulis pemula mudah diikuti. Dia akan dapat memahami
dan dapat melakukan dengan cepat hal-hal yang harus di persiapkan dan dilakukan
dalam menulis. Pendekatan ini pun sangat membantu pemahaman dan sikap, baik
guru menulis atau pun penulisan itu sendiri, bahwa menulis merupakan suatu proses
yang berkaitan
dengan kemampuan, pelaksanaan, dan hasil yang di peroleh secara bertahap. Artinya, untuk
menghasilkan tulisan yang baik umumya orang melakukannya latihan berkali-kali.
B. Hubungan Menulis dengan Membaca
Menulis
dan membaca adalah kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis dan
diterima oleh pembaca dijembatani melalui lomba bahasa yang di tuliskan.
Menurut Goodnan dkk. ( 1987 ) dan Tierney ( 1983 dalam tompskin dan Hoskisson, 1995 ), Baca
tulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan
pembaca sebagai penulis.
Kualitas
pengalaman membaca ini akan sangat mempengaruhi kesuksesannya dalam menulis.
Itu terjadi, demikian Frank Smith ( 1982 ), karena ketika membaca secara tidak
sadar pembaca” Membaca seperti penulis” ( 1982 ). Tidaklah berlebihan jika kita nyatakan bahwa penulis yang baik
adalah pembaca yang baik pula.
C.
Media
Belajar
1. Pengertian Media/gambar
Kata
media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
’tengah’, ’perantara’ atau ’pengantar’. Dalam Bahasa arab, media adalah
perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Grerlach
& Ely (1971) mengatakan bahawa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi,
atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh
pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks,
dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media
dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis,
foto grafis, elektronik untuk menengkap, memperoses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal (Arsyad, 1997:3).
Kata media
merupakan bentuk jamak dari kata Medium yang secara harfiah berarti
perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan
dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media merupakan wahana
penyalur informasi belajar atau penyalur pesan (Djamarah, 2002: 136).
Banyak cara
yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi di
Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk saluran yang digunakan untuk
menyalurkan pesan/informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah
berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk
belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat
fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Asosiasi Pendidiakan Nasional memiliki pengertian yang berbeda yaitu media
diartikan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta
peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan
dibaca (dalam Sadiman, 2007 :6-7).
Akhirnya
dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat
dijadikan sebagai penyelur pesan guna mencapai tujuan pengajaran (dalam
Djamarah, 2002:137).
Dalam sejarah pendidikan orang yang pertama menggunakan
gambar sebagai media pendidikan ialah Johan
Amos Comenius dengan ’Orbie Picture’ nya yang terkenal itu. Dewasa ini
gambar merupakan media yang sudah disadari pentingnya untuk memperjelaskan
pengertian murid-murid. Yang dimaksud dengan gambar disini ialah gambar-gambar
hasil lukisan tangan, gambar-gambar lukisan yang telah di cetak, gambar hasil
seni fotografi, baik hasil dari obyek yang nyata maupun kreasi khayalan
manusia.
Beberapa tujuan pemakaian gambar; untuk menterjemahkan
simbol verbal dan memperjelas pengertian anak, memperkaya atau melengkapi
bacaan, untuk membangkitkan hasil belajar belajar, memperbaiki kesan-kesan yang
salah, menerangkan suatu unit bacaan.
2. Kegunaan Media
Levie dan Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi
media pembelajaran, khusunya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi
afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi konpensator.
a). Fungsi Atensi
Media
visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang
ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Seringkali pada awal
pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu
merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka sehingga mereka
tidak memperhatikan.
b). Fungsi Afektif
Media
visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar tekas yang bergambar. Gambar atau
lambang atau visual dapat menggugah
emosi dan sikap, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
c). Fungsi Kognitif
Media
visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa media
lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan
mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d). Fungsi
Konpensatoris
Media
pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan
konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam menghitung untuk mengorganisasikan informasi
dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi
untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi
pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara verbal. (Arsyad, 1997;17).
Sudjana dan Rivai (1992:2) mengemukakan
manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu;
a). Pembelajaran akan lebih menarik perhatian
siswa sehingga dapat menumbuhkan hasil belajar belajar.
b). Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya
sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai
tujuan pembelajaran.
c). Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak
semata-mata komunikasi vebal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga
siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar
pada setiap mata pelajaran.
d). Siswa dapat
lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan
uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti menghasil belajar, melakukan,
mendemonstrasikan, memamerkan dan lain-lain (Arsyad, 1997:24).
Dari
uraian beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan beberapa manfaat praktis dari
penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut;
1. Media
pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat
memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2. Media
pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat
menimbulkan hasil belajar belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa
dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri sesuai kemampuan
dan hasil belajarnya.
3. Media
pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
4. Media
pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang
peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka (Arsyad, 1997; 24-27).
D.
Jenis-Jenis
Media
Banyak
cara untuk menyampaikan atau menampilkan sesuatu, salah satunya melalui media.
Media sendiri dapat dibagi sebagai berikut:
a. Media
Auditif
Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja,
seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media ini cocok untuk orang
tuli.
b. Media
Visual
Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini
ada yang menampilkan gambar diam seperti film rangkai, film bingkai, foto,
gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar
atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun, diantara media
pendidikan, gambar/foto sebagai media yang paling umum dipakai. Dia merupakan
bahasa yang umum, yang dimengerti dan dinikmati di mana-mana.
Beberapa kelebihan dan kelemahan media gambar;
a. Kongkrit
gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media
verbal semata.
b. Dapat
mengatasi ruang dan waktu,
c. Dapat
mengatasi keterbatasan pengamatan kita,
d. Dapat
memperjelas suatu masalah
e. Murah
harganya dan gampang didapat serta digunakan
f. Gambar/foto
hanya menggunakan persepsi indra mata
g. Gambar/foto
terlalu kurang efektif dalam pembelajaran
c. Media
Audiovisual
Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini
mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang
pertama dan kedua.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.
Subyek
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 3
Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik dan berlangsung pada tanggal 01 November
2011 dan 8 November 2011. adapun jadwal penelitian sebagai berikut:
Tabel 1. Jadwal Kegiatan
Pembelajaran Menulis Cerita
|
No
|
Hari/Tanggal
|
Kegiatan
|
Materi
|
Ket.
|
|
1
|
Selasa, 01 November 2011
|
-
Penjelasan tentang menulis
cerita
-
Menjelaskan strategi menulis
cerita
-
Memberikan contoh menulis
cerita menggunakan gambar rangkai
-
Mengajak siswa menulis cerita
dari gambar yang disediakan
-
Evaluasi materi menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai
|
Menulis cerita
dengan menggunakan gambar berangkai
|
Siklus I
|
|
2
|
Selasa, 8 November 2011
|
-
Penjelasan tentang menulis
cerita
-
Menjelaskan strategi menulis
cerita
-
Memberikan contoh menulis
cerita menggunakan gambar rangkai
-
Mengajak siswa menulis cerita
dari gambar yang disediakan
-
Evaluasi materi menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai
|
Menulis cerita
dengan menggunakan gambar berangkai
|
Siklus II
|
Sedangkan yang menjadi subyek dalam
penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 3 Peromaan Kecamatan Tambak Kabupaten
Gresik. Adapun nama – nama subyek penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Daftar Nama
Siswa Kelas IV SDN 3 PEROMAAN
|
No
|
Nama Siswa
|
L / P
|
|
1
|
MOHAMMAD
|
L
|
|
2
|
LUTFIYAH
|
P
|
|
3
|
SAKINAH
|
P
|
|
4
|
SYAIKILATURRAHMI
|
P
|
|
5
|
KHULIDAWATI
|
P
|
|
6
|
SALIHIN
|
L
|
|
7
|
SALMAN
|
L
|
|
8
|
SHIBGHATULLAH MUJADDIDIN
|
L
|
|
9
|
ZULZILAWATI
|
P
|
|
10
|
RABIATUL ADAWIYAH
|
P
|
B.
Deskripsi per Siklus
1. Rencana Tindakan
Rencana
penelitian disusun berdasarkan penelaahan beberapa literatur, diskusi dengan
seorang guru (teman sejawat), masukan dari pengawas, yang meliputi : (1) Tujuan
rancangan penelitian tindakan kelas, (2) Personalia observer (teman sejawat),
(3) Rancangan langkah–langkah penelitian tindakan kelas, dan (4) Jadwal
penelitian tindakan kelas.
Tindakan
dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah di buat dengan ketentuan : (1)
tujuan, Memperoleh model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa
”Menulis cerita dengan menggunakan media gambar”. (2) Satu teman sejawat
sebagai observer siswa kelas IV. (3) Waktu yang dibutuhkan 2 jam dalam setiap
siklus.
Penelitian tindakan kelas lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja,
sifatnya realistik dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun hasil
penelitian dapat diterapkan oleh orang lain yang mempunyai konteks yang sama
dengan peneliti. Dalam buku Pedoman Teknis Pelaksanaan Classroom Action
Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK Depdiknas (2001:5)
disebutkan penelitian bersiklus, tiap siklus terdiri dari:
a)
Persiapan/perencanaan
(Planning)
b)
Tindakan/pelaksanaan (Acting)
c)
Observasi (Observing)
d)
Refleksi (Reflecting)
2.
Tahap
Pelaksanaan
Jumlah siklus pada penelitian tindakan kelas ini ada 2
siklus, yaitu:
a. Siklus I
1) Perencanaan
(Planning)
Sebelum melakukan penelitian, peneliti
mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi
bahan pembelajaran
b. Menyusun
silabus dan RPP
c. Menyiapkan
alat bantu pembelajaran
d. Menyiapkan
lembar tes
e. Menyiapkan
lembar observasi
2) Tindakan /
Pelaksanaan (Acting)
Dalam tahap ini merupakan tahap pelaksanaan yang
tertuang dalam rencana pembelajaran dengan modifikasi pelaksanaan sesuai dengan
situasi yang terjadi.
Tindakan Siklus I
Materi Pokok: Menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai
Langkah-langkah
tindakan:
-
Tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah
mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan awal untuk membangkitkan hasil belajar belajar, serta
mengadakan apersepsi.
-
Guru mengajak siswa untuk Menentukan tema
pada cerita yang akan ditulis, menyusun kerangka karangan yang sesuai dengan
tema, siswa menulis cerita rekaan sesuai dengan tema yang sudah dibuat.
-
Guru mengingatkan kembali ciri-ciri menulis
karangan yang baik
-
Guru memberikan dua gambar rangkai yang dijadikan
contoh dalam menulis cerita.
-
Guru mempersilahkan kepada siswa untuk menulis
cerita dari beberapa gambar rangkai yang telah disusun sesuai dengan urutan
nomer.
Beberapa hal yang diharapkan dalam siklus ini adalah:
-
Siswa mengalami peningkatan hasil belajar belajar
dan aktivitas di kelas selama guru melakukan kegiatan pembelajaran.
-
Terdapat peningkatan konsentrasi belajar sehingga
aktivitas siswa menjadi terfokus dalam menulis cerita.
-
Siswa memiliki kemauan dan keberanian untuk
berlatih menulis cerita melalui gambar rangkai yang tersedia, serta mampu
menyelesaikan tugas yang diberikan.
3) Observasi
(Observing)
Dalam tahap observasi peneliti
melakukan pengamatan selama kegiatan berlangsung, juga teman, guru yang diminta
bantuan untuk ikut menghasil belajar selama kegiatan proses pembelajaran
berlangsung dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa dan lembar
observasi aktivitas guru.
4) Refleksi (Reflecting)
Tahap ini
merupakan tahap menganalisa, mensintesa, hasil dari catatan selama kegiatan
proses pembelajaran menggunakan instrumen lembar pengamatan, kuesioner, dan
tes. Dalam refleksi melibatkan siswa, teman sejawat yang menghasil belajar dan
kepala sekolah. Untuk melakukan perencanaan pada siklus berikutnya, peneliti
mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah yang timbul pada pembelajaran
siklus I.
Siklus II
1) Perencanaan
(Planning)
Sebelum
melaksanakan tindakan siklus II, peneliti melakukan perbaikan-perbaikan terkait
dengan temuan-temuan pada siklus I yang menyangkut hal-hal sebagai berikut :
1.
Bahan ajar
2.
Alat peraga
3.
Silabus dan RPP
4.
Soal tes
5.
Lembar observasi
2) Tindakan /
Pelaksanaan (Acting)
Dalam
tahap ini merupakan tahap pelaksanaan yang tertuang dalan rencana pembelajaran
dengan modifikasi pelaksanaan sesuai dengan situasi yang terjadi.
Tindakan Siklus II
Materi Pokok:
Menulis cerita Menggunakan media gambar.
Langkah-langkah
tindakan:
-
Tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah
mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
awal untuk mengingat pelajaran yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya
dan membangkitkan hasil belajar belajar, serta mengadakan apersepsi.
-
Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok
kemudian memberikan gambar berangkai pada masing-masing kelompok sebagai tema pada cerita yang akan ditulis, siswa
menulis cerita sesuai dengan gambar yang sudah ada.
-
Guru mengingatkan kembali ciri-ciri menulis cerita
yang baik
-
Guru memberikan bimbingan dalam menulis cerita.
-
Guru mempersilahkan kepada masing-masing kelompok
untuk menyampaikan hasil karyanya di depan kelas.
-
Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari
pelajaran yang telah berlangsung.
Beberapa hal yang diharapkan dalam siklus ini adalah:
-
Siswa mengalami peningkatan hasil belajar belajar
dan aktivitas di kelas selama guru melakukan kegiatan pembelajaran.
-
Terdapat peningkatan konsentrasi belajar sehingga
aktivitas siswa menjadi terfokus dalam menulis cerita dengan menggunakan media
gambar berangkai.
-
Siswa memiliki kemauan dan keberanian untuk
berlatih menulis cerita melalui gambar rangkai yang tersedia, serta mampu
menyelesaikan tugas yang diberikan.
3)
Observasi (observing)
Dalam tahap observasi peneliti
melakukan pengamatan selama kegiatan berlangsung, juga teman, guru yang diminta
bantuan untuk ikut menghasil belajar selama kegiatan proses pembelajaran
berlangsung dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa dan lembar
observasi aktivitas guru.
4) Refleksi
(Reflecting)
Tahap ini
merupakan tahap menganalisa, mensintesa, hasil dari catatan selama kegiatan
proses pembelajaran menggunakan instrumen lembar pengamatan, kuesioner, dan
tes. Dalam refleksi melibatkan siswa, teman sejawat yang menghasil belajar dan
kepala sekolah.
Dari hasil
pembelajaran menulis cerita menggunakan media gambar berangkai menghasilkan
beberapa keuntungan:
1. Dapat meningkatkan hasil belajar belajar
siswa
2. Siswa merasa senang belajar Bahasa
Indonesia khususnya materi menulis cerita rekaan
3. Siswa merasa tidak bosan selama
pembelajaran berlangsung.
3. Instrumen Penelitian
Dalam
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan beberapa analisa, antara
lain :
a.
Lembar observasi
Lembar observasi guru digunakan untuk mengungkapkan
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran antara lain contoh lembar observasi
seperti pada lampiran.
b.
Soal tes
Berupa tes hasil belajar berbentuk soal uraian singkat
dan menulis cerita dengan menggunakan media gambar. Soal tes dikerjakan secara
individu oleh siswa. Tes digunakan untuk mendapatkan gambaran hasil belajar
siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, tes diadakan setiap akhir siklus.
Dari hasil tes pada siklus satu dan dua
dapat ditarik kesimpulan ada tidaknya peningkatan hasil tes yang
dilaksanakan. Data yang diperoleh dari hasil ulangan siswa digunakan untuk
mengetahui hasil ketuntasan klasikal maupun individual.
B A B IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pembelajaran Siklus I
Dari
hasil pengamatan selama proses
pembelajaran materi pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar
berangkai, dengan bahasa sendiri yang sesuai EYD. Data yang di hasil belajar adalah :
1) Tingkat kategori hasil belajar pembelajaran
menulis cerita dengan menggunakan media gambar berangkai dengan bahasa sendiri
yang sesuai EYD
2) Tingkat hasil belajar siswa pada pembelajaran
pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan media gambar berangkai dengan
bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
3) Tingkat kategori
keaktifan siswa pada pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
Tingkat
kategori hasil belajar belajar siswa dalam pembelajaran pembelajaran menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai
dengan EYD Pada siklus I. Berikut hasil
pengamatan observer (dalam hal ini teman sejawat) terhadap hasil belajar
siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD tampak rendah.
Hal
ini dapat dilihat dari hasil menulis cerita siswa dalam penulisan alur cerita
masih tidak teratur, siswa nampaknya masih kurang banyak latihan menulis
cerita. Tingkat kategori hasil belajar siswa pada pembelajaran pembelajaran menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai
dengan EYD pada siklus 1.
Dari
hasil pengamatan terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita
dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan
EYD. Tampak bahwa tulisan siswa belum teratur. Hal ini tampak dari rendahnya
susunan cerita yang ditulis siswa tidak sesuai dengan yang ia inginkan,
rendahnya kemampuan menanggapi masukan guru, dan rendahnya kamampuan merespon
masukan guru.
Ringkasan
tingkat kategori hasil belajar siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. di
tunjukkan pada tabel 3.
Tabel 3.Tingkat kategori hasil belajar siswa pada
pembelajaran menulis cerita
|
Skor
|
Tingkat
Kategori
Hasil
belajar
|
Frekuensi
|
Persen
(%)
|
|
5
|
Sangat tinggi
|
2
|
20
|
|
4
|
Tinggi
|
3
|
30
|
|
3
|
Cukup
|
3
|
30
|
|
2
|
Rendah
|
1
|
10
|
|
1
|
Sangat rendah
|
1
|
10
|
|
TOTAL
|
10
|
100
|
Berdasarkan
tabel 3 tampak bahwa dari 10 siswa hanya 20% siswa memiliki hasil belajar pada
kategori sangat tinggi, 30% siswa pada kategori tinggi, 30 % siswa dalam kategori
cukup, dan 20 % siswa pada kategori
rendah kebawah.
2. Tingkat kategori Keaktifan siswa pada pembelajaran menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai
dengan EYD. Dari hasil pengamatan
terhadap keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan
gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Kualitas tulisan
siswa masih rendah. Hal ini tampak dari rendahnya perhatian siswa dalam
menanggapi masukan teman, rendahnya kemampuan siswa dalam merespon teman,
rendahnya kemampuan menanggapi masukan guru, dan rendahnya kamampuan merespon
masukan guru.
Ringkasan
tingkat kategori perhatian siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. di
tunjukkan pada tabel 4.
Tabel 4.
Tingkat kategori keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita
|
Skor
|
Tingkat
Kategori
keaktifan
|
Frekuensi
|
Persen
(%)
|
|
5
|
Sangat tinggi
|
2
|
20
|
|
4
|
Tinggi
|
2
|
20
|
|
3
|
Cukup
|
2
|
20
|
|
2
|
Rendah
|
3
|
30
|
|
1
|
Sangat rendah
|
1
|
10
|
|
TOTAL
|
10
|
100
|
Berdasarkan
tabel 4 tampak bahwa dari 10 siswa hanya 20 % siswa memiliki hasil belajar pada
kategori sangat tinggi, 20 % siswa pada kategori tinggi, 20 % siswa dalam
kategori cukup, dan 40 % siswa pada
kategori rendah ke bawah.
3. Tingkat keberhasilan tindakan melalui penerapan
pendekatan proses pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar
berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD.
Jika ditinjau dari hasil tes pada
akhir pembelajaran, skor pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan
gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. memiliki kategori
rendah. Dari hasil tes pada akhir pembelajaran, rentang skor mulai dari 40 - 70
dengan rata-rata ideal (Mi) 30 dan rata-rata hitung 50 dengan standar deviasi
(SD) 60 Hasil tes pada akhir pembelajaran berdasarkan kategori ( sangat baik,
baik, cukup, kurang, dan kurang sekali ) Ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Tingkat kategori skor siswa pada pembelajaran menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai
|
Skor
|
Tingkat
Kategori
Skor
|
Frekuensi
|
Persen
(%)
|
|
68 ke atas
|
Sangat tinggi
|
1
|
10
|
|
62 – 67
|
Tinggi
|
4
|
40
|
|
56 - 61
|
Cukup
|
2
|
20
|
|
50 – 55
|
Rendah
|
2
|
20
|
|
48 kebawah
|
Sangat rendah
|
1
|
10
|
|
TOTAL
|
10
|
100
|
Hasil
pengamatan terhadap peran guru dalam pembelajaran di kelas pada kegiatan : (1)
Pada kegiatan penulisan cerita guru kurang membantu yaitu menunjukkan cara
menulis cerita yang benar. (2) pada tahap proses pengoperasian menulis cerita
dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan
EYD, guru kurang memberikan contoh dan latihan yang banyak (3) Pada tahap
penyelesaian menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa
sendiri yang sesuai denga EYD. siswa belum teliti akhirnya masih banyak siswa
yang mendapatkan nilai yang rendah.
Dari hasil evaluasi dan refleksi
terhadap pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan
bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. siklus 1 menunjukkan pembelajaran belum
efektif dan masih perlu dilakukan perubahan pada rencana tindakan perbaikan (
pada siklus II ), sesuai dengan hasil perbaikan kelemahan pembelajaran siklus
I.
B. Hasil Pembelajaran Siklus II
Setelah
dibuat rencana perbaikan pembelajaran ( pada siklus II ) dilakukan pembelajaran
dan dilakukan pengamatan terhadap respon siswa dan hasil belajar siswa.
1. Tingkat
kategori hasil belajar belajar siswa
Dalam pembelajaran menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Pada siklus II, hasil pengamatan observer (teman
sejawat), terhadap hasil belajar siswa
pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan
bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD menunjukkan peningkatan yang sangat
signifikan. Hal ini dapat dilihat dari:
semangat siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru sangat
antusis bahkan siswa selalu menginginkan untuk ditugasi untuk menulis cerita
kembali,. Tingkat kategori hasil belajar
siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
dengan bahasa sendiri yang sesuai denga EYD. Di tunjukkan pada tabel 6.
Tabe
6. Tingkat kategori hasil belajar siswa pada menulis cerita dengan menggunakan
gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD. Siklus II
|
Skor
|
Tingkat
Kategori
Hasil
belajar
|
Frekuensi
|
Persen
(%)
|
|
5
|
Sangat tinggi
|
4
|
40
|
|
4
|
Tinggi
|
4
|
40
|
|
3
|
Cukup
|
1
|
10
|
|
2
|
Rendah
|
1
|
10
|
|
1
|
Sangat rendah
|
0
|
0
|
|
TOTAL
|
10
|
100
|
Berdasarkan
tabel 6, tampak bahwa dari 10 siswa 10 %
siswa memiliki hasil belajar pada kategori sangat tinggi pada siklus I
meningkat, menjadi 40 % siklus II 20 % siswa pada kategori tinggi pada siklus
I, meningkat menjadi 40 % pada siklus II. siswa dalam kategori cukup, 30 % pada
siklus I turun menjadi 10% pada siklus II. siswa pada kategori rendah kebawah dari 40 % pada siklus
I turun menjadi 10%.pada siklus II
2.
Tingkat kategori keaktifan siswa
Pada
pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa
sendiri yang sesuai dengan EYD. Dari hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa
pada menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri
yang sesuai dengan EYD, tampak bahwa keaktifan siswa meningkat. Hal ini tampak
dari meningkatnya keaktifan siswa dalam menanggapi masukan teman,
meningkatnya kemampuan siswa dalam
menulis cerita, meningkatnya kemampuan menanggapi masukan guru, dan
meningkatnya kamampuan merespon masukan guru. Ringkasan tingkat kategori
keaktifan siswa pada menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan
bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD di tunjukkan pada tabel 8.
Tabel 8. Tingkat kategori keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita
dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan
EYD. Siklus II
|
Skor
|
Tingkat
Kategori
keaktifan
|
Frekuensi
|
Persen
(%)
|
|
5
|
Sangat tinggi
|
4
|
40
|
|
4
|
Tinggi
|
4
|
40
|
|
3
|
Cukup
|
1
|
10
|
|
2
|
Rendah
|
1
|
10
|
|
1
|
Sangat rendah
|
0
|
0
|
|
TOTAL
|
10
|
100
|
Berdasarkan
tabel 8. tampak bahwa dari 10 siswa hanya 20 % siswa pada siklus I memiliki hasil
belajar pada kategori sangat tinggi meningkat menjadi 40% pada siklus II, 20 %
siswa pada kategori tinggipada siklus I meningkat menjadi 40% pada siklus II
.dan 30% siswa dalam kategori cukup pada siklus I turun menjadi 10% pada siklus
I, dan 20 % kategori rendah kebawah pada siklus I tetapi 10% pada
siklus II.
3. Tingkat
kategori skor siswa
Jika
ditinjau dari hasil tes pada akhir pembelajaran, skor pada pembelajaran menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai
dengan EYD pada siklus II memiliki kategori tinggi. Hal ini bisa
dilihat dari skor yang di peroleh oleh siswa pada saat mengikuti tes menulis
cerita melalui penggunaan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai
dengan EYD pada siklus II. Berarti proses pembelajaran pada siklus II mengalami
kemajuan. Dari hasil tes pada akhir pembelajaran, rentang skor
mulai dari 50 – 85 pada siklus I meningkat 65 – 100 pada siklus II dengan
rata-rata ideal (Mi) 50 pada siklus I meningkat menjadi 70 pada siklus II dan
rata-rata hitung 60 pada siklus I meningkat menjadi 80 pada siklus II dengan
standar deviasi (SD) 70 pada siklus I meningkat menjadi 90 pada siklus II.
Tingkat kategori skor siswa pada pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan
gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD pada siklus II
ditunjukkan pada Tabel 9.
Tabel 9. Tingkat kategori skor siswa pada pembelajaran
menulis cerita dengan
menggunakan media gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
Siklus II
|
Skor
|
Tingkat Kategori
Skor
|
Frekuensi
|
Persen (%)
|
|
80 ke atas
|
Sangat tinggi
|
7
|
70
|
|
68 – 73
|
Tinggi
|
2
|
20
|
|
62 - 67
|
Cukup
|
1
|
20
|
|
56 - 61
|
Rendah
|
0
|
0
|
|
55 kebawah
|
Sangat rendah
|
0
|
0
|
|
TOTAL
|
10
|
100
|
Hasil
pengamatan terhadap peran guru dalam pembelajaran di kelas pada kegiatan: (1)
siswa sudah mampu menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
dengan sangat baik. (2) pada tahap proses pembelajaran menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD guru
cukup banyak memberikan contoh dan latihan (3) Pada tahap penyelesaian menulis
cerita dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai
dengan EYD siswa tidak banyak mengalami kesalahan akhirnya banyak siswa yang
mendapatkan nilai tinggi.
Dari
hasil evaluasi dan refleksi terhadap pembelajaran menulis cerita dengan
menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD
siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan, keberhasilan dapat
dirasakan dengan bukti banyaknya siswa yang meminta diberi tugas menulis serta
hasil dari tulisan siswa yang semakin berkualitas.
Refleksi
yang harus di perhatikan pada tindakan pembelajaran yang lain atau selanjutnya
adalah untuk lebih meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas, terkait
dengan bimbingan atau batuan terhadap
siswa di dalam kegiatan pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar
berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD oleh sesama siswa serta tetap lebih memperhatikan
kepada siswa yang memiliki kelemahan
dalam pembelajaran.
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari
hasil analisis data dan pembahaan dapat di buat beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Hasil belajar dan keaktifan siswa
Dalam pembelajaran menulis cerita rekaan
berdasarkan pengalaman di SD kelas IV dapat di tingkatkan dengan menggunakan
gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD mampu mencapai
kategori sangat tinggi 70 % dan 20 % kategori tinggi.
2. Pendekatan
proses penyelesaian
Melalui
pembiasaan menulis cerita pemberian contoh dan latihan siswa dapat meningkatkan prestasi
pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD di SD kelas IV rata-rata skor 70.
3. Kesulitan
yang banyak dialami siswa
Dalam
pembelajaran pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan gambar berangkai
dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan EYD dapat diatasi dengan selalu
latihan menulis cerita dan konsoltasi dengan guru yang mendampingi.
B. Saran
Berdasarkan beberapa hasil
penelitian di atas, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :
1. Guru
hendaknya lebih melihat hasil belajar siswa untuk belajar pada sesama teman,
(koreksi, saran, dan masukan) dalam mengerjakan pembelajaran menulis cerita
dengan menggunakan gambar berangkai dengan bahasa sendiri yang sesuai dengan
EYD Guru hendaknya mau melakukan penelitian tindakan kelas dalam upaya
meningkatkan hasil pembelajaran siswa dan meningkatkan profesionalismenya.
2. Kepala sekolah hendaknya mendorong dan
mendukung guru yang melakukan inovasi
pembelajaran dengan cara memfasilitasi dan menyemangati.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1995. Prosedur
Penelitian. Jakarta:
Rinieka Cipta
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:Yrama Widya
Ardiana, Leo Idra dan Kisyani
Laksono. 2004. Bahan Pelatihan Indonesia/E/22 Penelitian Tindakan Kelas.
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah.
……… 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta:
Depdiknas
Depdiknas. 2006. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:Depdiknas
Keraf,
G. 1984. Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahira Berbahasa. Ende Flores:Nusa indah.
............... 1982.
Eksposisi dan Deskripsi. Ende-
Flores : Nusa indah
............. 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta : PT. Gramedia
............., 1997. Buku
Panduan Guru Sistem Pembinaan Profesional Guru SD Tahun 1997. Surabaya: CV.
Dwi Tunggal.
Moeliono,
A. M. 1989.Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan tersebar. Jakarta:PT.Gramedia.
Rahmanto, B. 1998. Metode
Pengajaran Sastra. Yogyakarta:Kanisius
Sadiman, Arif S, dkk. 2007. Media
Pendidikan:Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta:PT. Raja
Grafindo Persada.
Santoso, Puji. 2008. Materi dan Pembelajaran
Bahasa Indonesia
SD. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka
Suciati. 2003. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai.
2007. Media Pengajaran. Bandung:Sinar Baru Algensindo
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa. 1977. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Waluyo, Herman J. 2005. Apresiasi
Pemahaman Jenis Kelamin manusia untuk Pelajar Kelas 1 SD. Jakarta:PT.
Gramedia Pusataka Utama
Wardhani, IGAK. 2008. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka
Wadhani, IGAK, dkk, 2008. Teknik Menulis Karya
Ilmiah. Jakarta: Penerbit UT
Wardhani, IGAK dan Wihardit, Kuswaya. 2008. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit UT
Winataputra, Udin S, 2008. Teori
Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka
Witharinton, HC. 1986. Teknik-Teknik Belajar
Mengajar.. Bandung:
Jemmars